Sejarah

Hampir setiap orang “kampung” membayangkan betapa enaknya bisa bekerja di Jakarta, dengan harapan bisa merubah/memperbaiki perekonomian keluarganya. Itulah pikiran orang yang belum pernah merasakan menginjakkan kakinya ke ibu kota. Bayangan kebagian selalu menghantui pikirannya, membayangkan hidup di Ibu Kota yang dielu-elukan oleh semua orang, “enak kali yach, kerja di Jakarta”

Ludi Priyanto adalah salah satu dari segelintir orang yang mempunyai pemikiran seperti itu. Pada akhirnya ia pun memutuskan untuk hijrah ke Jakarta pada tahun 2005. Ia ke Jakarta tidak seorang diri, melainkan ditemani oleh Sutikno , lantas ia di antarkan ke sebuah kontrakan berukuran oleh Silo .

Sesampainya di kontrakan  sambutan hangat pun terlihat, setelah temu kangen, Sito pun mulai menceritkan kisahnya selama hidup di Jakarta. Disela-sela ceritanya Sito pun akhirnya menyarankan Ludi untuk mencoba bekerja menjadi sopir taxi seperti yang ditekuni Sito selama ini.

Tanpa pikir panjang Ludi pun menerima tawaran itu. Keesokan harinya Ludi di ajak oleh Sito untuk melamar menjadi sopir taxi, ia pun langsung dipercaya untuk membawa taxi, padahal ia sama sekali belum mengetahui jalan/rute di Jakarta. Walhasil selama dua hari menjadi supir ia pun tidak bisa setoran. Yang lebih tragis lagi ia sempat kebingungan dan menangis karena tidak tahu kemana arah/jalan menuju pul taxi.

Dari kejadian itu Ia pun memutuskan untuk keluar. Namun ia berpikir “kalau aku keluar berarti, aku ngebebanin Sito lagi” , setelah keluar ia pun tidak lantas berdiam diri dikontrakan Sito. Ia membantu Sito untuk jualan soto, usaha sampingan Sito selain sebagai sopir taxi. Dengan semangat ia membantu jualan walau tanpa gaji. Namun ia tidak mengeluh karena tidak mendapatkan gaji, karena ia sudah merasa di tolong oleh Sito.

Ada hikmah tersendiri selama ia membantu jualan soto. Ia mulai mengenal bermacam-macam bumbu dapur dan terus belajar cara membuat bumbu soto. Bumbu soto ini selalu dirahasiakan oleh Sito, namun perlahan Ludi pun bisa membuat bumbu soto yang sama dengan racikan Sito.

Ludi menjalani profesi sebagai penjual soto cukup lama, bukan sehari atau dua hari, tetapi berbulan-bulan. Sampai pada suatu hari, ada salah satu pelanggan sotonya, yang kebetulan mempunyai usaha di bisang kontraktor, meminta Ludi untuk mencoba memasukkan lamaran ke kantornya. Ia pun memberanikan diri untuk mencari peruntungan di perusahan itu.

Sesampainya di perusahan tersebut dan berbincang dengan pemilik perusahaan itu,akhirnya Ludi dipercaya untuk menyupir dan mengangkut puing. Tidak lama kemudian Ia kembali dikasih kepercayaan untk menjadi sopir proyek. Namun nampaknya dewi fortuna kembali berpihak kepada pria berperawakan kecil ini.

Sang pemilik perusahaan menyewakan rumah petakan, yang lebih mencengangkan lagi Ludi diangkat sebagai kepala logistik, dengan tekun ia lalui ini semua demi mewujudkan cita-cita sang adik yang punya keinginan untuk melanjutkan pendidikanya ke jenjang yang lebih tinggi (kuliah).

Keinginan Karyo sang adik untuk kuliah harus tertunda, saat Karyo memutuskan hijrah ke Jakarta. Karyo harus rela menjadi kuli bangunan pada siang hari, dan malam harinya ia pun bekerja di sebuah konveksi milik istrinya Pak MS (bos kontraktor Ludi dan Karyo).

SOTO KUDUS

Kesabaran membawa berkah, sekian lama menjalankan profesinya sebagai kuli bangunan, bos kontraktor ini tiba-tiba mempunyai keinginan untuk mengembangkan usahanya. Namu usaha ini jauh dari usaha yang sebelumnya, yang berhubungan dengan puing-puing, tapi ia ingin mencoba peruntungan berjualan.

Entah apa isi kepala dari sang Bos ini, tiba-tiba dia ingin jualan soto. Dari sanalah Ludi mencoba untuk menunjukkan kalau Ia bisa mewujudkan keinginan bosnya dengan modal pengalaman selama membantu Sito berjualan soto. Ludi dengan hati-hati meraciknya dan menkombinasikan bumbu-bumbu itu supaya tercipta rasa yang khas dan bisa diterima oleh pengunjung/pelanggan “kalau sudah cocok di lidah ku, berarti ini sudah cocok untuk lidah orang lain”

Walhasil dari hasil percobaan itu akhirnya bisa diterima oleh bosa dan dipercaya untuk membuka warung soto di toko dengan biaya sawa perbulan. Dari sebuah ruko kecil ini, hasil racikan bumbu Ludi dipuji banyak orang. Menurut para pelanggan Soto buatan Ludi ini bisa memanjakan lidahnya.

Namun pujian itu hanya sekedar pujian, pengunjung yang datang nampaknya kurang ramai. Ludi sempat berpikir, kenapa hal ini bisa terjadi, padahal rasa sotonya itu sangat pas untuk dinikmati. Setelah dipelajari ternyata bukan masalah rasa, namun masalah letakruko yang kurang strategis dan banykan pungli (pungutan liar).

Dari kejadian itu, Luudi pun harus mengerutkan kening, karena Pak MS memutuskan untuk mengakhiri kerjasama dengan Ludi. Kejadian itu tidak lantas membuat Ludi mengurungkan niatnya untuk terus berjualan soto ini. Ia terus membaca/melihat apa sebanarnya yang terjadi. Berhari-hari ia pelajari, dan ternyata dari hasil yang bisa diambil, ternyata letak usaha juga memperngaruhi maju dan tidaknya suatu usaha.

Hal lain yang bisa memajukan suatu usaha ini adalah pentingnya usaha untuk melakukan promosi. “percuma jika kita memiliki usaha tanpa adanya promosi yang memadahi”. Setelah kedua permasalahan itu bisa terbaca, akhirnya Ludi memutuskan untuk melanjutkan berjualan SOTO KUDUS ini dengan modal yang sangat minim dari gajinya yang tersisa. Perjuangnya untuk memulai usaha ini lagi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ludi harus lari kesana kemari untuk mencari tempat yang strategis untuk berjualan. Setelah berminggu-minggu akhirnya ia menemukan tempat yang dianggapnya tepat, yaitu di emperan swalayan Di Meruya.

Dengan modal yang hanya cukup untuk menyewa emperan dan perabotan ala kadarnya, Ia pun memutuskan untuk menemui Sito untuk meminjam angkringan. Dapatlah Ia satu angkringan untuk memulai berjualan soto. Kebingungan Ludi tidak berakhir sampai disini, ia dihadapkan dengan bahan-bahan pendukung julan belumlah terpenuhi. Bahkan ayam dan jeruk nipis sebagai bahan utamanya tidak bisa terbeli.

Kembali ia harus memutar otak, bagaimana caranya suapa ayam itu bisa terbeli. Ia kembali ke Sito untuk meminjam uang, dan ia mendapatkan penjaman sebesar Rp 40. 500, 00. Setelah semuanya lengkap, mulainya ia berjualan untuk pertama kalinya setelah tidak bekerjasama lagi dengan Pak MS.

Senang bukan kepalang yang Ludi terima saat ini, ia merasa berhasil karena sotonya banyak yang menyambangi dan tidak sedikit yang sampai pesan sampai dua porsi. “tidak ada sedikitpun yang tersisa, dan komentar dari para pelanggan rata-rata memuji soto saya”

Pujian itu makin membuat hati Ludi bersemangat untuk terus berjualan. Disampin pujian dari pelanggan, Ludi jiiga mengharapkan dapat saran atau masukan untuk mengembangkan usaha sotonya itu

Ramenya soto itu tidak hanya di hari pertama jualan, namun berlanjut ke hari-hari berikutnya, hari demi hari, bulan demi bulan, akhirnya ia merasakan sudah merasa cukup mampu untuk menghidupi adiknya Karyo dan meminta sang adik untuk kuliah dan mewujudkan cita-citanya.

Karyo pun memutuskan untuk mendatangi Ludi yang membutuhkan tenaganya. Ia keluar dari tempat kerjanya yang semula dan membantu Ludi untuk mengembangkan usaha sotonya itu. Dewi Fortuna kembali berpihak setelah dibantu oleh Karyo soto Kudus ini kembali mengalami peningkatan. Sang adikpun mempunyai ide untuk membuka cabang di tempat lain.

Ludi pun mengikuti saran dari Karyo, akhirnya ia membuka cabang. Dengan membuka cabang baru ini berarti Ludi membutuhkan karyawan, ia pun tidak mencari karyawan orang jauh-jauh, ia berusaha mengambil karyawan dari tetangganya di kampung. Dengan harpaan ia bisa membantu perekonomian tetangganya itu. Daerah Kebayoranlah sasaran utnuk membukan cabang Soto Kudus ini. Dengan konsep yang sama seperti yang ada di Meruya, ia kembali menyewa tempat di emperan swalayan.

Hasil dari tempat usaha yang Ludi buka ini jauh lebih cari cukup untuk membiayai hidupnya.mulai dari membayar kontrakan, karyawan, yang terpenting adalah Karyo bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tidak seperti Ludi yang hanya lulusan SMA.

Setelah dirasa cukup lama tidak membuka gebrakan baru, Ludi pun memutuskan untuk membuka kembali cabang lagi. Kali ini ia memilih tempat untuk membuka usaha di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Dengan ciri khas yang sama yaitu di emperan swalayan. Untuk cabang yang di Pondok Labu ia percayakan kepada Anur . Namun tidak bertahan lama karena lokasi ini terlalu jauh dari kontrakannya, sehingga kurang tercontrol dan pengawasan dan tempatnya pun terlalu sempit.

Tutupnya cabang yang di Pondok Labu tidak lantas membuat usaha soto ini lesu. Seiring berjalanya waktu setelah berbulan-bulan menjalani usaha ini, seperti ketiban durian runtuh, soto ini dijadikan salah satu menu untuk penyambutan tamu di hotel berbintang di kawasan Jakarta Pusat.

Tidak hanya hotel berbintang yang ketagihan dengan soto ini, sang pemilik pun kembali harus melayani catering untuk acara – acara pesta syukuran, arisan dan lainnya. “walaupun masih dalam porsian yang kecil dan sederhana, tapi saya senang karena soto saya ini bisa diterima oleh masyarakat yang lebih luas”

Membentuk Kemandirian Sang Adik

Ditengah perkembangan yang pesat, Ludi pun bimbang dan terus berpikir akan dibawa kemana usaha yang ia rintis selama ini, rasa khawatir pun sempat menghantui pikirannya, mampukan usaha ini menaungi banyak karyawan, dan langkah apa yang harus ditempuh dengan pengalaman dan pendidikan yang rendah.

Dari kebimbangan ini, Ludi pun seketika menginginkan untuk pergi ke tanah suci untuk menjalankan Ibadaha haji. Ia pun tanpa pikir panjang dengan seketika ia meniatkan langkahnya untuk ke tanah suci. Konsekwensinya ia harus meninggalkan usahanya dan mempercayakan usahanya kepada sang adik dan sepupunya. Adapun tujuan mempercayakan usaha itu adalah supaya bisa membentuk kemandirian sang adik juga. Namun Ludi terus memantau lewat telephone baik selama di tanah suci maupun selama tinggal di kampung.

Namun saat Ludi sedang menjalan Ibadah Haji ada permasalahan yang timbul terhadap usahanya. Salah satu tempat jualanya yang merupakan tempat usaha pertama buka di Meruya terpaksa di tutup. Karena kontraknya sudah habis dan dua karyawanya Anur dan Ali pulang kampung.

Mereka pun hanya berjualan satu tempat di Kebayoran sebelumnya ia memutuskan untuk membuka di Pondok Labu. Namun walaupun hanya satu tempat, hasilnya masih bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan membiayai kuliahnya Karyo, juga mennggaji Basri.

“Tapi Karyo dan Basri patut diacungi jempol, karena mereka berus sangat gigih dalam menjalankan ini semua”

Dari kegigihannya soto kudus di kebayoran mampu bertahan dan berkembang.

SOTO KUDUS KAUMAN

Pada suatu hari Karyo bertemu dengan tetangga dari kampung (dimana dan pada saat apa). Sosok ini sangat baikhati, sederhana, bijaksana.  lah nama pemuda itu. selain itu juga Sikn ini sangat pandai dalam hal agama, Ludi sendiri sangat mengagumi sosoknya. Pertemuan itu bisa dikatakan membawa berkah tersendiri Baik untuk Sikn maupun Karyo. Sikn mulai menceritakan perjalanan hidupnya mulai menjadi supir yang gajinya tidak tentu, terkadang juga tidur di Masjid, untuk makan juga kurang.

Cerita Sikn itu membuat Karyo terharu, ia pun memberi tahukan kepada Ludi tentang hal ini, akhirnya Karyo dan Ludi memutuskan untuk mengajak Sikn bersama-sama mengembangankan usaha soto yang sudah dirintisnya. Dari sanalah mereka mulai memikirkan nama untuk soto ini.

Sebelum memutuskan untuk mengembangkan soto ini kami sepakat untuk membuat sebuah komitmen. Yaitu tanpa adanya kecurangan dan berjiwa social. Ludi berfikir orang – orang yang berjiwa social dan berkemanusiaan pasti mempunyai keimanan yang kuat, Ludi pun memutuskan agar yang bekerja di usaha soto kami adalah orang – orang yang mempunyai iman, begitupun yang menikmati soto ini. Dan mampu memberikan rasa aman dan berjiwa kemanusiaan.

Dari pemikiran.komitmen itulah akhirnya Ludi memberikan nama sotonya, SOTO KUDUS KAUMAN. Artinya soto merupakan jenis makanannya, Kudus kota asal makanannya yang berarti suci juga memiliki arti halal dalam sajian kami. Sedangkan kauman itu diambil dari kaumnya orang-orang yang beriman.

“Maka pantaslah nama ini yang akan berkibar dengan kegigihan untuk menuntaskan diri dari kemiskinan dan menggodok para karyawan untuk bisa menjadi orang – orang yang berkarya dan berjiwa social, dan yang lebih penting memanusiakan manusia”

Ujian Dari TUHAN

SOTO KUDUS KAUMAN pada awalnya dijalankan dengan terawat  rapih dalam tataan. Ludi selalu berpesan untuk tetaplah bersatu dalam kerukunan dan kebersamaan. Ia pun menjadikan Sikn pimpinan. Ia melihat sosok Sikn karena kematanganya, penyayang. Sementara Basri sebagai juru masak, yang mewarisi resep-resep Ludi dan bagian pengembangan. Sedangankan Karyo dipercaya untuk keuangan, berbelanja, dan bagian promosi, mulai dari brosur maupun dari mulut ke mulut.

Terlepas dari hal itu semua, Suatu hari SOTO KUDUS KAUMAN mendapat catering dengan jumlah yang cukup lumayan. Di sini sudah mulai terlihat ada kejanggalan, kenapa ketika ada catering justr Sikn mengusulkan untuk dilempar ke catering kawannya. Yang lebih mencengangkan adalah hal ini tidak diketahui oleh Ludi.

Pada saat itu Karyo dan Basri menghendaki catering itu untuk di ambil sendiri saja, karena ini menurut mereka berdua ini adalah suatu kepercayaan yang diberikan oleh pelanggan kepada SOTO KUDUS KAUMAN. Dari sana juga muncul harapan akan memudahkan SOTO KUDUS ini lebih dikenal oleh masyrakat dan membantu untuk promosi.

Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Sikn pun menyetujui kalau catering itu bisa dikerjakan sendiri tanpaharus dilempar ke catering kawanya itu. Setelah sepakat untuk mengambil catering itu, Karyo pun membelanjakan keperluanya untuk catering itu. Dan sisa hasil dari catering itu, mereka gunakan untuk membeli atau menambah asset SOTO KUDUS KAUMAN itu, yaitu berupa mangkuk dll.

Perlahan namun pasti, Sikn pun mempunyai ide atau gagasan untuk mengembangkan SOTO KUDUS KAUMAN ini menjadi lebih maju lagi. Ia pun menginginkan soto ini berkembang dengan mencari investor. Ludi pun menyetujuinya, namun ia memberikan syarat.

“boleh saja ada investor tapi harus mengikuti prosedur kita, yaitu berjiwa kemanusiaan dan mensejahterakan karyawan dan bisa bersosial”

Sikn pun menyanggupi syarat dari Ludi, tanpa ada rasa curiga Ludi pun mempercayajkan hal itu kepada Sikn.

Ludi datang ke Jakarta untuk menanyakan hal tersebut, dan melihat perkembangan usahanya itu. Dengan gamblang Sikn menjelaskan perkembangnya dan memberikan semua laporanya. Dengan penjelasan itu pun Ludi sangat senang karena ada perkembangan yang sangat signifikan tanpa ada rasa curiga sedikit pun.

SOTO KUDUS KAUMAN yang berada di kebayoran lama makin meyakinkan dan mencoba memekarkan diri dengan membuka cabang di Bojong Sari, Depok. kemudian melebarkan sayap lagi dengan mebuka di Cinangka, Bogor. Namun kali ini dengan dana dari investor yang dibawa oleh Sikn bernama Ir. RMT . Selang beberapa bulan ia kembali membuka cabang di kawasan Cinere, dan di kawasan perbelanjaan ciputat.

Namun cabang-cabang (Cinangka dan Bojong Sari) yang dibuka oleh Sikn itu tidak bertahan lama. Karena merasa tidak berkembang, makanya ia pun memutuskan untuk menutupnya. Sikn pun tanpa diskusi dengan Ludi ia menutup entah apa yang membikin SOTO KUDUS KAUAMAN di kebayoran lama juga ditutup.

Padahal menurut Basri dan Karyo tempat itu masih sangat potesial, tidak mengalami kerugian dan bagus, karena terletak dipusat perbelanjaan. Ludi pun menemu Sikn dan menayakan hal itu, menurut Sikn tempatnya terlalu jauh. Dan karyawan yang ada, justru diboyong ke cabang yang ia buka baru di Pondok Cabe tepatnya di dekat lapangan terbang polisi.

Ludi melihat perubahan watak Sikn, ia tak pernah lagi berkomunikasi dengan Ludi, tidak transparan juga dalam pembukuan. Saat itu Ludi masih belum menaruh rasa curiga karena keyakinanya bahwa yang berada di sana adalah orang yang mengerti dan memahami tentang agama. termasuk investornya seseorang yang ditokohkan dalam agama.

“Saya yakin atas kebijaksanaan dalam menata, mengelola dan megeluarkan kebijakan dalam usaha”

Ludi sempat lama tidak ada komuniksai dengan Sikn, akhitnya ia pada awal 2010 memutuskan untuk datang kembali ke Jakarta, dan menanyakan perkembanganya, dan system yang dijalankan selama ini. Dari sana Ludi ternyata dikejutkan dengan sesuatu yang tisak pernah terlintas di bebaknya.

“Sesampainya di Pondok Cabe, saya merasakan kejanggalan dalam sambutannya, ia selalu menghindar dan menjauh”

Awalnya Ludi hanya berpikir mungkin Sikn sangat sibuk atau sedang banyak pesenan catering. Namun diam-diam Ludi melihat posisi yang dulunya dipegang oleh Basri, kini dipegang oleh adiknya Sikn. Basri bertugas mengontrol masakan  dan menjaga kualitas rasa. yang tidak disangka-sangka, posisi Karyo itu hanya sebagai tukang ambil sayur di pasar. Mereka hanya menerima gaji dan tanpa ada pembagian hasil dari kesepakatan awal.

Melihat hal ini Ludi pun mencoba menemui Sikn dan meminta penjelasan. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa harus seperti ini.

Pada suatu malam Sikn mengundang seluruh karyawan untuk berkumpul di Pondok Cabe, dan rapatpun dimulai. Hening terasa saat itu, namun seketika sura menggelegar keluar dari mulut Sikn, serasa tak percaya tapi fakta saat Sikn menegaskan dan mengakui bahwa SOTO KUDUS KAUMAN adalah miliknya.

Ludi merasa sangat terpukul dengan kejadian ini, sampai ia harus mendengar umpatan dari Sikn, kalau Ludi tidak boleh lagi datang dan menginjakkan kakinya ke SOTO KUDUS KAUMAN dimanapun berada.

Kejadian itu juga akhirnya memecahkan persahabatan dan kebersamaan yang selama ini terjalin diantara mereka. Kepercayaan Ludi pun seketikan lenyap seperti ketelan bumi kepada Sikn.

Saat itu juga Ludi meninggalkan tempat itu, perasaan bergejolak campur menjadi satu. Antara sedih, merasa di khianati, ditikam dari belakang, dan berpikir “Apakah kesuksesan bisa merubah watak manusia dengan begitu cepatnya.Usaha yang selama ini saya rintis untuk membangun jiwa yang berperikemanusiaan malah sebaliknya”

Saat ini hanya rasa perih, pedih, duka, lara yang ada dalam hatinya ketika mengingat peristiwa yang dialami malam itu.

Allah Maha Besar

Tidaklah mudah bagi Ludi untuk melupakan peristiwa itu, namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Bagaimana supaya bubur itu menjadi nikmat, ia lengkapi bubur itu menjadi bubur ayam, enak, lezat dan bisa dinikmati semua orang.

Sang adikpun selalu memberikan dukungan, ia selalu menyemangati Ludi dengan selalu mengatakan “Allah maha besar, Allah maha kaya, Allah tidak tidur dan Allah maha bijaksana, jika memang SOTO KUDUS KAUMAN menyejahterakan karyawan dan mengurangi pengangguran dan selalu bisa berjalan dalam kebaikan  biarkanlah  dan kita mulailah buka usaha baru  dengan tetap memakai SOTO KUDUS KAUMAN hingga Allah yang akan menentukan siapakah sesungguhnya yang berhak  dengan nama SOTO KUDUS KAUMAN

Mendengar kalimat itu Ludi pun segera merespon kata-kata Karyo. “Setelah saya fikir, benar juga akata-kata Karyo  siapapun boleh menggunakannya  sebatas untuk mengurangi pengangguran, menyejahterakan  karyawan dan berjiwa sosial, dari sini akan banyak orang-orang yang merasakan dan mengingat akan sejarah ibu saya dan saat saya dalam kandungan

Ludi pun kembali bangkit, dan mulai berjualan lagi di Bintaro dengan nama SOTO KUDUS KAUMAN. Ia pun memberlakukan gratis untuk selama kepada ibu-ibu yang sedang mengandung. Setelah berjualan di Bintaro tidak lama kemudian ia membuka cabang di daerah Jakarta Selatan tepatnya di depan Masjid Al-Adzkar Karang Tengan, Lebak Bulus.

Dan kemudia pada awal 2011 Ludi mengajak Ubaidilah untuk membentuk manajemen yang handal dan ditandai dengan berdirinya PT Kauman Group dengan pemilik Ludi Priyantana, Ubaidilah, Karyo Sampurno Mustiko dan Basri. Alhamdulillah dengan kerja keras hingga kini Soto Kudus Kauman semakin dikenal.

Dengan lantang Ludi mengatakan “SOTO KUDUS KAUMAN ini akan bisa berkibar kembali atas do’a dan dukungan dari para pelanggan dan saya berharap semoga Tuhan selalu memberkahi langkah-langkah kami  dan member kesehatan bagi penikmat  soto kami juga dimudahkan kelancaran rezeki. AMIN”